Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Hanya Ambil Kwangen Bisa Jadi Pemangku

I Putu Suyatra • Jumat, 1 Desember 2017 | 15:26 WIB
Hanya Ambil Kwangen Bisa Jadi Pemangku
Hanya Ambil Kwangen Bisa Jadi Pemangku

BALI EXPRESS, GIANYAR - Proses Ketut Widiantara menjadi pemangku ngayah di Palinggih Brahmana Lelara, tidak ruet. Hanya ditugaskan mengambil sebuah kwangen untuk menentukan siapa yang layak menjadi pemangku.


 


Ketut Widiantara yang hingga kini  masih aktif bekerja di PT. Garuda Indonesia, Bandara I Gusti Ngurah Rai ini, mengaku tidak percaya dengan proses yang sangat gampang untuk jadi pemangku. "Setelah medapatkan kwangen yang berisi tanda menjadi pemangku, saya sudah langsung bilang tidak mau. Karena menurut saya, prosesnya seperti membuat arisan saja. Siapa yang ada namanya, itu yang terpilih," terang ayah dua anak tersebut kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di rumahnya, Banjar Blah Tanah, Batuan Kaler, Kecamatan Sukawati, Gianyar, pekan kemarin.


Ia mengaku sempat mau pindah desa agar tidak  menjadi pemangku. Widiantara bahkan mengaku sekitar satu tahun lamanya, selalu bertanya secara sekala maupun niskala. "Saat itu memang sudah tidak terasa apa setiap berjalan dengan kaki,  mengambang rasanya. Banyak orang yang bilang memang saya yang pantas, dan setiap nunas baos di balian, juga kelihatan begitu. Jadi saya putuskan untuk ngayah saja," papar pria 50 tahun tersebut.


Ketut Widiantara juga sempat usul mengambil kwangen agar diulang kembali. Di mana  pesertanya dari seluruh krama setempat, terkecuali yang duda, janda, dan sakit fisik tidak diperkenankan ikut. Bahkan ia menyarankan, bila tiga kali pengambilan  dirinya yang mendapatkan ketiga kwangen tersebut, baru ia mau menjalankannya.


Dikarenakan upacara pengambilan kwangen yang begitu sakral, di mana  menggunakan banten berupa bebangkit, sehingga tidak dapat diulang kembali. Praktis usulannya mental, sehingga tidak bisa berkata apa-apa lagi, kecuali menjalankan tugas barunya tersebut. "Takutnya bukan saya yang memang kasudi untuk ngayah. Apalagi ini jero mangku yang pertama di Patung Bayi. Kalau sudah pantas, tidak dijalankan akan salah. Bahkan jika tidak pantas dan itu dijalankan juga akan menjadi kesalahan juga," ungkapnya.


Setelah mendapatkan kwangen tersebut, Ketut Widiantara mengaku sempat sakit, karena seringnya berpikir soal kerja dan ngayah. "Karena sudah ditunjuk, bahkan dalam nunas baos juga kelihatan bahwa berawal leluhur saya terdahulu.  Karena pernah ada yang akan mau menjadi seorang pemangku, dan mungkin sekarang saya yang membayarnya. Di samping itu, saya juga berpikir sudah diberikan karahayuan dan kesejahteraan sampai saat ini. Setelah setahun merenung, saya bersama istri mau ngayah di sana," ungkapnya.


Ditambahkannya,  jika dalam muput sebuah upakara yang akan dihaturkan pada Patung Bayi, harus memgambil cuti. “Jika ada orang yang nangkil di luar piodalan, saya menyesuaikan dengan jam kerja di bandara, agar antara ngayah dan bekerja bisa sama-sama berjalan,” pungkasnya. 

Editor : I Putu Suyatra