Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Cara Sekaa Joged Bumbung Deha Sari Kembalikan Pakem Joged

I Putu Suyatra • Sabtu, 2 Juni 2018 | 16:12 WIB
Ini Cara Sekaa Joged Bumbung Deha Sari Kembalikan Pakem Joged
Ini Cara Sekaa Joged Bumbung Deha Sari Kembalikan Pakem Joged



BALI EXPRESS, TABANAN - Untuk mengembalikan pakem Joged Bumbung dan tentunya melestarikan seni dan budaya Bali, Sanggar Seni Jegeg Bagus (SSJB) di SDN 1 Mambang, yang berlokadi di Desa Mambang, Kecamatan Selemadeg Timur membentuk Sekaa Joged Bumbung Deha Sari. Latihan pun terus dilakukan oleh para anggota sanggar.


 


Pembina sekaligus Penggagas SSJB, I Nyoman Budi Susila mengungkapkan bahwa, ide dibentuknya Sekaa Joged Bumbung Deha Sari dibuat untuk mengembalikan pakem joged bumbung yang belakangan ini tergerus zaman sehingga membuat joged bumbung identik dengan joged jaruh. Padahal joged bumbung adalah warisan seni budaya leluhur yang harus dijaga keberadaanya termasuk pakemnya.


“Maka dari itu, kami bentuk sekaa joged dengan pakem yang sebenarnya dengan melibatkan siswa kelas IV, V dan VI di SDN 1 Mambang, mulai dari penarinya dan penabuh,” ujarnya Jumat (1/6).


 


Menurutnya, tari Joged Bumbung Deha Sari ini, disamping bersifat hiburan dengan pakem penari dan pengibing ada batasnya, juga bersifat sakral atau bisa dipentaskan dalam upacara Manusa Yadnya. Karena penari yang dilibatkan adalah pilihan, yakni penari yang belum belum mengalami menstruasi atau Deha sesuai dengan namanya yakni Joged Bumbung Deha Sari. Bahkan busana yang dikenakan adalah memakai baju kebaya putih serta kamen berwarna kuning. “Kalau gelungannya sama dengan gelungan joged pada umumnya,” sambung pria yang juga Guru Kelas VI di SDN 1 Mambang  tersebut.


 


Maka dari itu, pihaknya terus menggelar latihan untuk memantapkan tarian ini, karena menurutnya sejauh ini Joged Bumbung Deha Sari dengan tiga orang siswi sebagai penari ini belum siap dipentaskan meskipun gambelan yang digunakan yakni tingklik mepelawah yang terbuat dari bambu sudah siap untuk mengiringi penari. Namun sejumlah instrumen gambelan lainnya berupa kendang, kesyur, jublang, dirasa masih kurang. “Kami baru mampu buat tingklik bersama anak-anak, yang lainya masih kurang dan masih perlu latihan yang rutin. Sehingga kami masih mengharapkan bantuan dari siapa pun dalam melengkapi gambelan,” lanjut Susila.


 


Ditambahkannya, pihaknya juga dibantu oleh relawan dari Wardah Foundation yang sudah sejak lama bekerja sama dengan Sanggar Seni Jegeg Bagus sekaligus berkontribusi terhadap SDN 1 Mambang dalam menghidupkan seni budaya. Pihaknya pun berharap ada lebih banyak pihak yang peduli akan pelestarian seni dan budaya yang dilakukan oleh SSJB selama ini.


 


Gagasannya membentuk Sekaa Joged Deha Sari ini pun mendapat sambutan positif dari masyarakat. Karena Joged yang dibuat adalah Joged Bumbung sesuai pakem tidak ada unsur jaruh. “Kedepan penari juga tidak hanya 3 orang saja, agar setiap banjar ada penari, sehingga saat ada acara mereka bisa tampil di banjar masing-masing, sembari menjalankan hoby juga melestarikan seni dan budaya,” pungkasnya.

Editor : I Putu Suyatra
#tabanan