Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Miardura, Simbol Keteguhan Warga Cangwang Hadapi Masalah

I Komang Gede Doktrinaya • Kamis, 3 Juni 2021 | 16:16 WIB
Tradisi Miardura, Simbol Keteguhan Warga Cangwang Hadapi Masalah
Tradisi Miardura, Simbol Keteguhan Warga Cangwang Hadapi Masalah

AMLAPURA, BALI EXPRESS — Warga adat di Banjar Adat Cangwang, Desa Bunutan, Kecamatan Abang, Karangasem, punya tradisi Miardura. Tradisi khusus ini untuk memaknai keteguhan masyarakat dalam melewati suatu permasalahan. 


Tradisi Miardura digelar di salah satu rangkaian piodalan di Pura Puseh dan Bale Agung, Banjar Adat Cangwang, pada Purnamaning Sasih Kapat, sesuai yang tercantum dalam salah satu lontar kuno di desa setempat. 


Ada tujuh rangkaian atau tingkatan pelaksanaan piodalan tiap tahunnya. Nah, puncak dari tujuh tahapan piodalan itu jatuh pada pelaksanaan keenam, yakni pada Ngusaba Gede. 


Pada saat Ngusaba, masyarakat akan berkumpul di pelataran madya mandala pura menyaksikan pementasan tradisi Miardura.


Tokoh Adat Banjar Cangwang Jro Wayan Madiana menegaskan, makna tradisi Miardura tak disuratkan jelas dalam lontar. Tapi dapat diartikan sebagai simbol pergulatan masyarakat Cangwang zaman dahulu. Beragam persoalan disebut kerap dihadapi. 


Tradisi itu juga menyimbolkan keteguhan dan kegigihan masyarakatnya dalam menghadapi persoalan.


Simbol kegigihan dan keteguhan itu dapat disaksikan saat para teruna (pemuda laki) teruni (pemuda perempuan) banjar setempat mementaskan Miardura. 


Mereka akan terbagi ke dalam dua kelompok, laki dan perempuan. Keseruan akan tersaji saat kedua kelompok melakukan madu tanggul atau semacam berperang, mengadu bendera kecil yang dimiliki masing-masing kelompok.


Jro Madiana menjelaskan, tradisi Miardura wajib dipentaskan saat Ngusaba Gede. Pelaksanaannya tidak diatur khusus, melainkan mengikuti rentetan upacara di Pura Puseh Bale Agung. 


Biasanya Miardura dimulai saat menjelang petang atau bagian akhir setelah persembahan sarana atau banten piodalan usai dihaturkan.


Menurutnya, tradisi itu memang tak bisa dilepaskan dari rangkaian upacara yang berlangsung selama piodalan di Pura Puseh dan Bale Agung. Di sisi lain, Ngusaba Gede dan rentetannya juga dilaksanakan tergantung dari kemampuan ekonomi masyarakatnya menggelar upacara.


Sesuai catatan lontar, kata Madiana, tahapan piodalan tiap tahunnya ada tujuh. Diantaranya piodalan tahun pertama disebut Ngerebus Ari, tahun kedua disebut  Neker, tahun ketiga Sekordi, Neduh pada tahun keempat. Kemudian Bguyuh pada tahun keenam, Ngusaba Gede tahun ketujuh atau puncak dari semua rangkaian, dan terakhir Ngusaba Empying. 




Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#balinese #upacara #hindu #pura #karangasem