Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dari Ritual Mejauman hingga Tipat Bantal dalam Pawiwahan

Nyoman Suarna • Jumat, 10 September 2021 | 15:42 WIB
Dari Ritual Mejauman hingga Tipat Bantal dalam Pawiwahan
Dari Ritual Mejauman hingga Tipat Bantal dalam Pawiwahan

Praktik Tantrisme rupanya masih berkembang subur dalam ritual Hindu di Bali meskipun telah mengalami proses lokalisasi dan sublimasi simbol. Pengaruhnya pun masih sangat kuat mewarnai ajaran agama Hindu di Bali seperti penggunaan candi sebagai tempat pemujaan Durga, pemujaan terhadap unsur Sakti dari Dewa seperti Uma, Laksmi, Sri. Bahkan, ritual mejauman, penggunaan tipat bantal dalam upacara pawiwahan adalah pengaruh tantrisme.


 


Dosen Pascasarjana, Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Dr. I Wayan Budi Utama, M.Si mengatakan meski masih memiliki pengaruh dan mengalami proses lokalisasi di Bali, namun ajaran ini kurang mendapat respon positif dalam wacana Hindu di Bali


 


Menurutnya, ada sejumlah penyebab, mengapa Tantrayana tidak begitu mendapat respon positif di Bali. Sebab, teks-teks Tantrik ditulis di dalam bahasa yang kabur yang berusaha menyembunyikan makna yang sesungguhnya dari para praktisi yang akan salah menggunakan teks-teks itu. Alasannya adalah menguntungkan diri mereka sendiri.


 


Teks-teks itu sulit untuk dipahami karena simbolisme yang berhubungan dengan kekuatan-kekuatan mistis. Tantra telah mendapatkan reputasi praktek-praktek yang secara moral rusak dan merendahkan derajat, khususnya seks kelompok sekte Lengan Kiri atau Niwrtthi Marga melalui ”Panca Makara”.


 


“Tantrayana sangat terkenal dengan ajaran Panca Ma, yaitu Matsya makan ikan; Madya, minum minuman keras; Mamsa, makan daging; Mudra, gerakan-gerakan tertentu; Maituna, hubungan seks, sebagai media pemujaan,” jelasnya.


 


Tujuannya adalah untuk mendapatkan kekuatan, kekuasaan, dan kesaktian (pengetahuan) dari Dewi Parwati sebagai Sakti Siwa. Sehingga ajaran Panca Ma mencitrakan seolah Tantra sekilas memang tampak berlawanan dengan ajaran Hindu pada umumnya yang lebih bersifat asketis.


 


Tantra sangat menghormati Sakti. Namun demikian tidak berarti bahwa meniadakan eksistensi Dewa. Keduanya, antara Dewa dan SaktiNya bersifat dualitas yang komplimenter. Tantra sama sekali tidak berpandangan bahwa perempuan adalah pemuas seksual sebagaimana pandangan yang keliru tentang maituna. Tantrayana sangat keras dalam mengatur persoalan hubungan antara laki-laki dengan perempuan yang bukan istrinya.


 


Pemujaan dengan hubungan seks atau maituna bahkan hanya boleh dilakukan lima hari setelah wanita datang bulan (menstruasi). Ajaran Tantrayana sebenarnya memiliki aturan yang sangat ketat dalam penerapan konsep Panca Ma atau Panca Makara.


 


Penggunaan daging, biji-bijian, minuman keras, mudra (gerak-gerak tertentu), serta maituna (hubungan seks) hanya boleh dilakukan dalam proses ritual di bawah bimbingan Guru. “Hubungan seks hanya boleh dilakukan dengan pasangan yang sah,” tegasnya.(habis)

Editor : Nyoman Suarna