Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Kisah Pohon Intaran yang Disakralkan Warga Julah

I Komang Gede Doktrinaya • Senin, 28 Maret 2022 | 11:30 WIB
SAKRAL : Pohon Intaran yang disakralkan di Desa Julah. dian
SAKRAL : Pohon Intaran yang disakralkan di Desa Julah. dian
SINGARAJA, BALI EXPRESS - Lontar Taru Pramana adalah salah satu lontar yang memuat ajaran suci dari Bhatari Ghori (Durga) yang diturunkan ke Mpu Kuturan, ketika dunia dilanda gerubug.

Dunia kala itu dilanda wabah cakbyag (mati di tempat) yang memakan korban sebagian warga. Dalam suasana sedih itu, tergerak hati Mpu Kuturan. Ia kemudian melakukan tapa memuja Bhatara agar diberikan kekuatan penyembuhan. Ajaran yang diterima dalam tapa itu dikenal dan tertuang dalam lontar Taru Pramana.

Lontar ini menyebutkan setidaknya 202 tumbuhan di sekitar kita adalah obat yang mujarab yang bisa dipakai ketika masyarakat dilanda wabah. Salah satunya adalah pohon Intaran.

Ketika suatu wilayah dilanda wabah, Intaran muncul sebagai penyelamat. Hal itu terjadi di Desa Julah, Buleleng, beratus-ratus tahun silam. Konon sebelum tahun masehi, Desa Julah pernah terserang wabah atau sakit gede. Wabah berbahaya tersebut menular dengan cepat. Bahkan, bisa membuat orang meninggal dunia. Karena penyakit yang menyerang warga itu sangat menular, maka mereka diasingkan agar tidak menularkan kepada penduduk lainnya.

Sejumlah warga diasingkan ke sekitar Ponjok Batu yang kini bernama Bangkah. Dalam pengasingannya mereka dirawat oleh seorang paranormal (balian sakti). Karena pada zaman itu di sekitar tempat pengasingan terdapat banyak pohon Intaran, dan saat itu belum mengenal pengobatan lainnya, maka balian itu pun memanfaatkan daun, kulit serta buah Intaran yang diramu dengan air tirta di tempat itu.

Ramuan dari Intaran tersebut diberikan kepada warga yang sakit, dan secara berangsur-angsur, warga yang terserang wabah akhirnya sembuh. Dari sanalah kemudian disadari bahwa pohon intaran dapat digunakan sebagai penyembuh penyakit.

“Dahulu ceritanya seperti itu. Ini menurut cerita rakyat yang dituturkan oleh tetua kami. Kebetulan ayah saya juga minum itu. Dan saya tahu betul itu. Karena dahulu banyak yang disembuhkan dengan ramuan tersebut,” tutur tokoh adat Desa Julah, Ketut Sidemen.

Karena banyak yang disembuhkan dari ramuan yang dibuat oleh balian sakti tersebut, maka orang-orang Julah pada saat itu berikrar (berjanji) untuk menyakralkan pohon intaran. Upacara sekecil apapun di Desa Julah harus menggunakan daun Intaran sebagai sarana upakara.

“Kalau yang paling kecil itu kan canang, harus menggunakan daun Intaran. Besar kecilnya banten harus pakai Intaran. Itu sebagai wujud terima kasih orang-orang Julah kepada Tuhan karena telah menciptakan pohon Intaran, dan pohon tersebut telah berjasa menyembuhkan warga dari wabah,” jelasnya.

Digunakan sebagai sarana upakara, daun Intaran disandingkan dengan bunga-bunga harum lainnya. Ada tiga jenis bunga pokok yang digunakan, yakni bunga kembang sepatu (pucuk), bunga menuri, dan daun temen.

Menurut Sidemen, masing-masing dari benda tersebut memiliki makna. “Intaran dalam canang itu digunakan untuk nyiratang tirta. Dikombinasikan dengan daun temen, kembang sepatu (pucuk), bunga menuri putih. Ada filosofinya itu. Kan ada warna hitam dari daun temen, merah dari pucuk, dan putih dari menuri. Itu melambangkan Dewa Tri Murti,” kata dia.

Selain digunakan sebagai sarana upakara, orang-orang Julah juga menggunakan daun Intaran di telinga mereka saat berpergian keluar rumah. Hal itu semacam signal pengantar antara orang yang memakai daun Intaran dengan Tuhan.

“Orang Julah jika berpergian mereka menyematkan daun intaran di telinga. Itu semacam signal untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. Ataupun untuk mencirikan orang tersebut adalah orang Julah. Serta meyakini daun inilah yang menyelamatkan mereka. Makanya kemana-mana mereka pakai daun Intaran,” ujarnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #balinese #Ini Kisah Pohon Intaran #Disakralkan Warga Julah #hindu #budaya #tradisi