Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Arti Meninggal Menurut Hindu, Ternyata Bervariasi

Putu Agus Adegrantika • Kamis, 20 Juli 2023 | 15:18 WIB
NGABEN : Salah satu rangkaian upacara Ngaben umat Hindu Bali.
NGABEN : Salah satu rangkaian upacara Ngaben umat Hindu Bali.

BALI EXPRESS- Upacara Ngaben bagi umat Hindu di Bali tak terlepas dari orang yang meninggal atau mati, di mana pengertian mati memang cukup bervariasi, tergantung dari sudut pandang yang mana pada pengkajiannya.  Secara sederhana, mati atau meninggal artinya sudah tidak bernapas lagi, kehilangan nyawa, berhentinya kerja jantung.

Namun menurut Hindu sesuai yang ada dalam Vrhaspati Tattwa dinyatakan bahwa pada waktu mati namanya, hanya berarti berpisahnya Panca Maha Butha dengan atma yang ada pada tubuhnya. Sementara itu dalam konteks upacara agama (Pitra Yadnya) pengertian mati bukan terletak pada saat berakhirnya hembusan napas terakhir, atau ketika denyut jantung berhenti tetapi pada waktu upacara Pitra Yadnya (pengabenan) dilangsungkan.

Secara Tattwa, orang yang dikatakan telah mati apabila atmanya lepas dari Panca Maha Butha. Hal ini disebutkan dalam Vrasphati Tattwa sebagai berikut :

Kala ikang mati ngarania wihtutun mapasah lawan

Panca maha butha juga tekang atma ri sarisa,

Ikang aganal juga ilang, ikang atma langeng tan molah, Apan ibek ikang rat kabeh dening atma

Artinya :

Pada waktu mati namanya, hanya berarti berpisahnya paca maha butha dengan atma yang ada pada tubuhnya, hanya badan kasarnya saja yang lenyap, sedangkan atmanya tetap tak berubah, sebab dunia ini penuh dengan atma.

Secara agama, orang yang diaktakan mati bila telah di upacarai seperti yang terdapat di Lontar Pretekaning Wong Mati disebutkan bahwa :

Pertama- tama orang mati tersebut selayaknya sebagaimana orang yang masih hidup, dimandikan dengan air biasa dan dilanjutkan dengan air bunga.

Makerik kuku,

Maitik-itik

Masigsig,

Makeramas,

Pada alisnya ditaruh daun intaran,

Pada dadanya ditaruh daun gadung,

Pada hidungnya ditaruh pusuh menur,

Pada kedua matanya ditaruh cermin atau kaca,

Kemaluannya ditutup dengan daun terong bagi laki-laki dan daun tunjung bagi wanita,

Diletakkan kwangen pada dada dan di setiap persendian sebagai lambing pangurip-urip,

Dikenakan pakian sebagaimana orang yang masih hidup,

Terakhir diadakan persembahyangan untuk keluarga dan mapegat. (*)

Editor : I Made Mertawan
#pitra yadnya #ngaben #mati #hindu #Panca Maha Butha