Seteleh peserta memasuki pangung dari Megeret pandandan mendengar alunan gending gamelan Bhatara Bagus Selonding yaitu gending Ebug kelor Kare-kare, dengan alunan nada yang bersemangat.
Menurut Perbekel Desa Tenganan, Ketut Sudiastika, gamelan Bhatara Bagus Selonding memiliki bentuk seni ritual yang sesuai dengan konsep Desa Kala Patra.
Gamelan ini sebagai pendukung suasana mistik bahwa ada sebuah upacara yang sedang berlangsung.
“Gamelan Bhatara Bagus Selonding memiliki musikal yang lirih dan dinamis sehingga dapat menambah susana khusuk dan ritual magis untuk melengkapi rangkaian ritual keagamaan,”
Ia menambahkan, ada sebuah aturan bahkan, orang Tenganan sendiri tidak boleh memegang gamelan tersebut sembarangan.
Hanya dalam waktu – waktu tertentu saja, dan itu pun dibarengi banyak syarat khusus, masyarakat diperkenankan memegang gamelan tersebut pada hari yang dianggap suci, seperti purnama dan tilem.
Ketika purnama, tilem, gambelan ini baru ditedunkan (dikeluarkan), setelah tedun baru bisa dimainkan.
Jika bagian dari gambelan tersebut terjatuh akan dilakukan pembersihan khusus yang diselenggarakan di seluruh penjuru Desa.
“Nah, saat memainkan gambelan Bhatara Bagus Selonding ada beberapa syarat bahwa penabuh harus bersih, tidak boleh dalam keadaan cuntaka atau sebel,” katanya.
Gamelan Bhatara Bagus Slonding merupakan gamelan yang berlaraskan laras pelog tujuh nada, yakni dang, dung, ndung, deng, dong, Ding.
Ndang didisimbolkan sebagai Dewa Mahesora, Dang disimbolkan sebagai dewa Iswara, Dung disimbulkan sebagai Dewa Wisnu.
Kemudian Ndung disimbolkan sebagai Dewa Sambu,Deng disimbolkan sebagai Dewa Mahadewa.
Baca Juga: Melalui Pemberdayaan, BRI Angkat Potensi Klaster Buah Kelengkeng di Tuban
Dong disimbolkan sebagai Dewa Siwa, Ding disimbolkan sebagai Dewa Brahma.
“Ada yang dihasilkan dari gamelan Bhatara Bagus Selonding ini merupakan tujuh buah nada yang bila dimainkan dalam bentuk gending akan begitu indah dan terkesan agung akan kesakralannya,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika