Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Waspada Darurat Henti Jantung, Begini Cara Beri Pertolongan Dasar

IGA Kusuma Yoni • Senin, 4 September 2023 | 16:14 WIB
BHD: Salah satu yang bisa dilkaukan jika ada yang mengalami kondisi henti jantung adalah segera memberikan  Bantuan Hidup Dasar (BHD).
BHD: Salah satu yang bisa dilkaukan jika ada yang mengalami kondisi henti jantung adalah segera memberikan Bantuan Hidup Dasar (BHD).

DENPASAR, BALI EXPRESS - Kondisi darurat henti jantung bisa dialami oleh siapa saja dan dimana saja. Jika tidak segera mendapat perawatan, bisa menimbulkan akibat yang fatal, salah satunya adalah kematian.

Salah satu yang bisa dilkaukan jika ada yang mengalami kondisi henti jantung adalah segera memberikan  Bantuan Hidup Dasar (BHD). Apa saja bagian dari BHD itu?

Namun sebelum memberikan BHD, si penolong harus memastikan korban ada di lingkungan yang aman."Ini sangat penting, karena untuk memberikan pertolongan korban dan si pemberi pertolongan harus ada dalam kondisi aman," jelas kepala IGD RS Siloam Mataram dokter Nita Julita Cindaya.

Langkah selanjutnya yang dilakukan adalah memastikan ada tidaknya denyut nadi korban, caranya, dengan mengecek nadi karotis atau nadi di bagian leher dan tetap memperhatikan pergerakan napas di dada korban.

Jika kondisi memungkinkan, korban bisa diberikan tindakan kompresi dada. Namun untuk tindakan ini, tidak semua pasien bisa diberikan kompresi dengan kekuatan penuh. Karena pada pasien balita/masih berusia muda, tindakan kompresi hanya bisa dilakukan dengan penekanan dua jari atau satu tangan saja.

"Kompresi dada dilakukan dengan meletakkan pangkal telapak  tangan pada 1/3 bagian bawah  tulang dada korban dan satu tangan yang lain ada  di atas tangan pertama. Kemudian jari penolong saling mengunci," lanjutnya.

Ketika memberikan tekanan, ada beberapa hal yanga harus diperhatikan. Pertama, kecepatan pada tekanan hanya bisa dilakukan dalam hitungan 100 – 120 x per menit. Selanjutnya adalah kedalaman tekanan tidak boleh lebih dari 5 cm dan harus ada ritme yang tepat antara menekan dan melepaskan.

Tindakan selanjutnya adalah materi bantuan pernapasan. Dalam tindakan ini, sangat disarankan menggunakan bag mask/ alat bantu napas, dan tidak ada celah antara masker bag dengan wajah pasien.

 "Setiap bantuan napas, berjarak lima hingga enam detik,", tambah dr. Nita.

Tindakan bantuan pernapasan ini bisa diberikan kepada pasien yang mengalami sumbatan pernapasan karena tersedak. Ciri-ciri nya antara lain, tanda sumbatan jalan napas berat, sianosis, batuk tanpa suara, tidak bisa bicara, memperagakan cekikan leher.

Ada beberapa metode yang bisa dilakukan untuk penanganan korban sumbatan jalan napas.

Pertama dikenal dengan teknik Back Blows. Caranya berdiri di belakang korban, lingkarkan 1 tangan di sekitar dada korban, selanjutnya berikan pukulan 5 kali di bagian punggung atas (di antara 2 tulang belikat).

Yang kedua adalah metode Abdominal thrust (Heimlich manuver). Metode ini dilakukan dengan cara si penolong melingkarkan kedua tangan di perut tengah bagian atas korban, satu tangan mengepal, tangan lain menopang kepalan tangan sebelahnya, lalu dorong kepalan tangan dengan cepat ke bagian dalam atas perut korban (sebanyak 5 kali).

KHIDMAT: Ketua Umum PW PGMNI Jawa Timur Moh. Ali Muhsin (kanan) melantik jajaran PD PGMNI Sampang di Pendopo Trunojoyo Sampang, Minggu (3/9). (PGMNI UNTUK JPRM)
KHIDMAT: Ketua Umum PW PGMNI Jawa Timur Moh. Ali Muhsin (kanan) melantik jajaran PD PGMNI Sampang di Pendopo Trunojoyo Sampang, Minggu (3/9). (PGMNI UNTUK JPRM)
Editor : Nyoman Suarna
#napas #henti jantung #hidup #bhd #bantuan