SINGARAJA, BALI EXPRESS – “Priit, priit,,,,,! Kiri, Pak. Masuk!” teriak Gede Suarjana, juru parkir (Jukir) saat mengatur kendaraan di Jalan Diponegoro, Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali.
Panas yang membakar kulitnya ia abaikan untuk mengatur ketertiban pengendara yang menggunakan parkir di kawasan itu.
Gerak Gede Suarjana begitu gesit. Sebentar di kiri, sebentar lagi di kanan. Kadang-kadang ia berdiri di tengah jalan.
Tentu saja pekerjaan itu sangat beresiko. Namun Gede Suarjana tetap menjalani profesinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Ia bercerita saat sedang bertugas, ia pernah ditabrak kendaraan dari belakang. Ia luka-luka. Siku, kaki dan celananya robek, namun tidak parah.
Itu terjadi puluhan tahun lalu saat ia belum memiliki alat komunikasi berupa handphone. Akibat kejadian itu ia pulang terlambat.
“Sampai rumah saya ceritakan semuanya. Tapi istri saya malah iba dengan motor saya, padahal yang kecelakaan dan luka kan saya. Itu kenangan saya sama istri. Sekarang istri sudah tidak ada. Sudah lama meninggal,” ujarnya saat bercerita.
Gede Suarjana sudah 25 tahun bekerja sebagai juru parkir. Ia dibawah naungan Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng. Setiap hari ia bekerja dua shift.
Jika shift hari pertama ia bekerja dari pukul 06.00 wita hingga 12.00 wita, maka hari kedua ia mengambil shift pukul 12.00 wita hingga 18.00 wita.
Saking lamanya menjadi tukang parkir, Suarjana sampai hafal betul karakter konsumennya.
Dari yang pelit, cerewet, bandel sampai yang penurut sekalipun ia kenali.
Jika ia bertemu dengan konsumen parkir yang penurut, Suarjana akan senang.
Sebab, ia akan lebih mudah untuk mengatur kendaraannya. Tetapi jika ia akan bertemu dengan konsumen yang sedikit kaku, ia mesti menyiapkan diri seperti akan berperang.
“Kadang-kadang baru lihat plat motornya saja sudah ketahuan siapa orangnya. Tapi kalau yang datang adalah konsumen kaku, aduh pasti bakal amsyong, gak dapat apa. Sudah cerewet, tidak mau bayar lagi. Kadang dibayar, tapi bayarnya pakai uang Rp 100,- sepuluh biji. Pusing saya dikasih uang kercen. Tapi tetap saya bantu juga. Karena tugas saya mengatur kendaraan yang keluar masuk di parkir pasar,” ungkapnya.
Tantangan lainnya dalam menjalani pekerjaan sebagai tukang parkir adalah interaksi dengan konsumen.
Meskipun tugasnya adalah mengatur parkir dan menjaga kendaraan, namun seringkali ia harus berurusan dengan konsumen yang kurang bersahabat.
Ada kalanya ia mendapat perlakuan kurang menyenangkan, bahkan hingga menerima cacian dan celaan yang tidak pantas.
“Pernah saya mau ditempeleng pengguna parkir. Dimaki dikatain naskeleng juga. Dia bilang baru jadi tukang parkir saja sudah sok. Sedih sekali saya dapat ujaran itu. Tapi saya coba tenang. Yang namanya masyarakat itu kadang kesadarannya kurang tapi bengkungnya gak ketulungan,” ungkap Suarjana, merujuk pada salah satu pengalaman tidak mengenakkan yang pernah dialaminya.
Meskipun demikian, ia mencoba untuk tetap tenang dan menjalankan tugasnya dengan baik.
Suarjana juga menghadapi tantangan dari segi teknologi, terutama terkait dengan implementasi sistem pembayaran e-parking.
Walau ada upaya untuk memperkenalkan sistem pembayaran digital, namun masih banyak masyarakat yang enggan atau kesulitan menggunakan sistem tersebut.
Suarjana tetap berusaha untuk mengadaptasi diri dengan perkembangan teknologi, salah satunya dengan menggunakan barcode QRIS untuk pembayaran parkir.
Namun, ia mengakui bahwa penggunaan teknologi tersebut belum sepenuhnya efektif, dengan hanya sebagian kecil konsumen yang menggunakan sistem pembayaran digital.
Kadang muncul banyak alasan dari mereka, tidak membawa hp, tidak isi kuota, hp lowbat dan macam-macam.
Saat menggunakan sistem e-parking, Gede Suarjana hanya dapat memungut parkir sebesar Rp 2.000,- per hari.
“Mereka pilih bayar kontan saja, bayar Rp 1.000,- Rp 2.000,- selesai sudah. Jadi kesadaran untuk itu masih belum. Disamping lama, jumlahnya juga kecil. Jadi bikin orang malas keluarin hp,” kata dia. ***
Editor : I Putu Suyatra